UPAYA PENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA FLASHCARD ALPHABET PADA SISWA KELAS 1 DI SEKOLAH DASAR

UPAYA PENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA FLASHCARD ALPHABET PADA SISWA KELAS 1 DI SEKOLAH DASAR


PROPOSAL





 


Oleh

ADILA AFIKA (NIM. 20191101039)

ALIFAH SETIAWULAN (NIM. 20191101017)

DEVY RAHMASARI (NIM. 20191101006)

YOSINTHA VALENT (NIM. 20191101042)










PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

TAHUN 2022



DAFTAR ISI

BAB I 4

PENDAHULUAN 4

A. Latar Belakang Masalah 4

B. Identifikasi Masalah 6

C. Batasan Masalah 6

D. Rumusan Masalah 6

E. Alternatif Pemecahan Masalah 7

F. Tujuan Penelitian 7

G.    Manfaat Penelitian 7

BAB II 9

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS 9

A. Kajian Teoretis 9

1. Media Pembelajaran 9

a. Pengertian Media Pembelajaran 9

b. Fungsi Media Pembelajaran 10

c. Jenis Media Pembelajaran 10

2. Membaca Permulaan 11

a. Pengertian Membaca Permulaan 11

b. Tujuan Membaca Permulaan 13

3. Pengertian Media Flashcard 14

a. Pengertian Media Flashcard Alphabet 14

b. Manfaat Media Flashcard Alphabet 15

4. Karakteristik Siswa Kelas 1 16

B. Penelitian Relevan 18

C. Kerangka Berpikir 21

D. Hipotesis Tindakan 21

BAB III 22

METODE PENELITIAN 22

A. Waktu dan Tempat Penelitian 22

B. Jenis Penelitian 22

C. Kehadiran dan Peran Peneliti 22

D. Subjek Penelitian 22

E. Rancangan Penelitian 23

F. Teknik Pengumpulan Data 25

G. Teknik Analisis  Data 27

H. Indikator Keberhasilan Penelitian 28

I. Jadwal Penelitian 29

DAFTAR PUSTAKA 30 

DAFTAR GAMBAR


Gambar 3. 1 Rancangan Penelitian 24

 

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Kriteria Presentase 28

Tabel 3. 2 Jadwal Penelitian 29




 


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia akan menjalankan kegiatan yang terencana sepanjang hidunya dan menjadi kebutuhan, kegiatan tersebut ialah pendidikan (Susanto et al., 2020). Pendidikan sekolah dasar merupakan titik awal seorang anak memulai jenjang pendidikannya. Anak-anak yang mendaftar di sekolah dasar belajar hal-hal baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Salah satunya, anak akan mulai mengenal, menghafal, dan memahami huruf, kata, bahkan sebuah kalimat. Maka, pengkondisian belajar sangat dibutuhkan bagi siswa supaya siswa mempunyai bekal untuk belajar ke tahap selanjutnya (Susanto, 2018). Untuk dapat menjalankan jenjang pendidikan sekolah dasar dengan lancar, seorang siswa harus mempunyai keterampilan, khususnya pada keterampilan berbahasa Indonesia. Keterampilan berbahasa Indonesia tersebut ialah keterampilan menulis, menyimak, berbicara, dan membaca.

Dari beberapa keterampilan tersebut, keterampilan membaca merupakan salah satu yang paling utama untuk dikuasai siswa. Dalam keterampilan membaca, ada dua tingkatan yang harus dilalui siswa, yaitu keterampilan membaca awal dan keterampilan membaca lanjutan. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan belajar seorang siswa tergantung dengan cara siswa mengendalikan kesulitan-kesulitan yang ada (Sofyani & Susanto, 2021). Keterampilan membaca permulaan adalah titik awal kelancaran dan keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah, karena akan menjadi dasar bagi siswa untuk memahami ilmu pengetahuan yang sangat luas (Ningsih, Winarni, & Roemintoyo, 2019). Tetapi, untuk dapat mengikuti pembelajaran di sekolah dengan baik, siswa harus bisa membaca dengan baik, karena membaca juga menjadi faktor yang penting untuk bisa meraih hasil yang maksimal. Hasil belajar yang maksimal menjadi tolak ukur bahwa siswa sudah mengerti dan mampu memahami materi yang dijelaskan (Dewi & Susanto, 2018). Tetapi, fakta yang sering ditemukan di lapangan adalah beberapa siswa kelas 1 masih belum lancar membaca. Tentunya hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor, mulai dari faktor orang tua, ekonomi, hingga faktor dari siswa sendiri yang kurang termotivasi dengan media pembelajaran yang membosankan.

Dengan menguasai keterampilan membaca, tentunya siswa akan lebih mudah menjalankan pendidikannya yang dimulai dari sekolah dasar. Siswa tidak akan kesulitan untuk memahami materi pembelajaran yang ada di buku. Dalam hal ini, tentunya sekolah menjadi ujung tombak dalam mengajarkan siswa keterampilan membaca yang dimulai dari mengajarkan keterampilan membaca permulaan.

Berangkat dari faktor siswa belum lancar membaca yakni faktor dari luar maupun faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Guru harus mampu membuat sebuah langkah agar siswa tertarik dan termotivasi dalam belajar keterampilan membaca permulaan. Dalam mengatasi masalah membaca yang terjadi di kelas 1, peneliti dan guru harus melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengupayakan media flashcard alphabet dalam mengajarkan keterampilan membaca permulaan. (Wahyudin, 2014) dalam penelitiannya didapatkan hasil penelitian menunjukkan bahwa media flashcard alfabet dapat meningkatkan semangat siswa untuk mengikuti pembelajaran khususnya pembelajaran membaca. Oleh karena itu, diharapkan setelah melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan media flashcard alfabet, pemahaman bacaan awal siswa akan lebih meningkat dan siswa dapat membaca dengan baik dan benar.

Berdasarkan survei yang dilangsungkan peneliti, terlihat bahwa keterampilan membaca permulaan siswa kelas I di salah satu sekolah dasar masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari beberapa siswa yang belum bisa membaca dengan baik dan benar. Karena, dalam melakukan pembelajaran, guru seringkali masih menerapkan metode pembelajaran tradisional atau konvensional dan masih kurang mengembangkan media pembelajaran. Hal ini berakibat pada siswa yang merasa kurang termotivasi, khususnya pada pembelajaran membaca.

Dari uraian yang telah dijabarkan, perlu adanya pengembangan media pembelajaran khususnya pada pembelajaran membaca. Media yang digunakan tentunya harus bisa menarik antusias, minat dan perhatian siswa di dalam kelas. Atas dasar tersebut, peneliti ingin melangsungkan penelitian tindakan kelas, dengan judul penelitian yaitu “Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Siswa Melalui Media Flash card Alphabet Pada Siswa Kelas I di sekolah dasar”.


B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil deskripsi latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti ingin  menguraikan identifikasi masalah yaitu :

1. Masih rendahnya keterampilan membaca permulaan siswa.

2. Pembelajaran membaca selama ini belum dilakukan dengan menggunakan media yang menarik.

3. Guru belum menerapkan media flashcard alphabet dalam melaksanakan pembelajaran membaca.

4. Upaya guru masih kurang dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.


C. Batasan Masalahj

Batasan masalah dalam penelitian ini yaitu meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa menggunakan media flashcard alphabet pada siswa kelas I.


D. Rumusan Masalahh

Rumusan masalah yang diajukan ialah bagaimana upaya dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa melalui media flashcard alphabet pada siswa kelas I di sekolah dasar?




E. Alternatif Pemecahan Masalah

Merujuk pada indentifikasi masalah yang telah dijabarkan, peneliti telah merumuskan alternative pemecahan masalah sebagai berikut :

1. Membuat pembelajaran khususnya pembelajaran membaca menjadi lebih menarik dengan menggunakan media flashcard alphabet.

2. Memotivasi guru dan siswa untuk meningkatkan pembelajaran membaca, khususnya pembelajaran membaca awal di kelas 1.

3. Melakukan langkah-langkah penerapan flashcard alphabet yakni (1) mengkondisikan siswa duduk membentuk lingkaran (2) menyusun media flashcard alphabet (3) siswa mengambil media flashcard alphabet kemudian mengamati huruf atau tulisan dan gambar yang ada di flashcard (5) siswa menyebutkan huruf atau tulisan yang ada pada flashcard.


F. Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas I melalui media flashcard alphabet yang dilakukan di sekolah dasar.


G. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dari penelitian ini kiranya mempunyai dua manfaat yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, kiranya bisa menjadi acuan atau refrensi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan keterampilan membaca permulaan di sekolah dasar.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat untuk sekolah, kiranya penelitian ini dapat menjadi pengetahuan mengenai peranan media flashcard alphabet dalam meningkatkan keterampilan membaca.

b. Manfaat untuk guru kiranya, penelitian ini bisa menjadi pedoman bagi guru ketika menyusun, mengembangkan hingga menentukan media pembelajaran membaca.

c. Manfaat untuk siswa kiranya, penelitian ini dapat berguna untuk siswa mengetahui kemampuannya dalam membaca.

d. Manfaat untuk peneliti kiranya, penelitian ini dapat menjadi sumber refrensi pengembangan media pembelajaran membaca.

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS


A. Kajian Teoretis

1. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Seiring berjalannya waktu, tidak hanya alat transportasi yang dikembangkan, tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi juga menghadapi perkembangan. Seiring berkembangnya teknologi, para guru secara alami diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi atau alat yang tersedia. Dalam konteks pembelajaran, guru bisa memafaatkan teknologi yang dapat berupa media pembelajaran, guna menunjang proses belajar siswa. Begitupun bagi siswa, dengan adanya media, diharapkan lebih mudah bagi siswa untuk menyerap informasi secara cepat dan efisien (Susanto & Rachmadtullah, 2019).

Menurut (Macmillan, 2018), media ialah bentuk jamak yang asalnya dari bahasa Latin medium, mempunyai arti penengah atau perantara. Sedangkan menurut (Puspitarini & Hanif, 2019) menjelaskan bahwa media pembelajaran merupakan alat berupa media fisik maupun non fisik yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk membantu memberikankan materi kepada siswa secara lebih efeektif dan efisien.

Meida pembelajaran menurut (Kurniawan, 2021) adalah suatu sarana belajar atau alat yang mempunyai peran sebagai penyambung bahan ajar yang diciptakan secara terencana serta sistematis oleh guru. Selanjutnya Gagne (dalam Salawati & Suoth, 2020) juga menjelaskan bahwa media adalah komponen dari berbagai jenis  lingkungan siswa yang dapat membangkitkan belajar siswa.

Berdasarkan paparan beberapa pendapat mengenai definisi media pembelajara, penulis membuat kesimpulan media pembelaajaran adalah alat atau perangkat pembelajaran yang dapat mendukung dan membantu guru dalam menarik minat dan perhatian siswa di kelas, sehingga akan terjadi atmosfer pembelajaran yang menyenangkan juga efisien serta efektif. Selain itu, agar proses pembelajaran atau pemberian materi dapat dilaksanakan dengan baik, media pembelajaran harus dipilih secara selektif dengan memerhatikan lingkungan dan kondisi siswa.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Media memiliki berbagai fitur yang dapat mendukung proses pembelajaran. (Sadiman, Rahardjo, Haryono, & Harjito, 2009) menjelaskan bahwa media pembelajaran dalam dunia pendidikan sangat penting bagi siswa dalam melakukan proses pembelajaran, karena dengan menggunakan media, dapat membiarkan daya indera, meminimalisir keterbatasan waktu, ruang, dan mengatasi sikap pasif serta dapat membuat siswa menjadi lebih termotivasi. Selain itu menurut Hamalik (dalam Indriyani, 2019) menjelaskan beberapa fungsi media pembelajaran di antaranya:

1) Media pembelajaran dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar di kelas yang lebih nyaman dan efektif 

2) Media adalah bagian yang berada di dalam sebuah sistem pembelajaran 

3) Media penting karena dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran

4) Media pembelajaran dapat menunjang proses pembelajaran dan membantu siswa memahami bahan ajar

5) Media pembelajaran dapat mengubah mutu pendidikan menjadi lebih baik

Dari penjelasan yang diberikan, penulis bisa mengambil kesimpulan fungsi pembelajaran ialah membantu guru untuk menyaimpaikan dan menjelaskan materi atau bahan pembelajaran dan membantu siswa untuk  memahami materi apa saja yang diberikan oleh guru.

c. Jenis Media Pembelajaran

Sejalan dengan fungsi media pembelajaran yaitu membantu guru untuk memberikan dan menjelaskan materi dan membantu siswa memahami materi, media pembelajaran diidentifikasi kedalam beberapa jenis, yaitu:

1) Media Visual

Media visual merupakan media hening atau tidak memuat suara dan sekedar dapat dinikmati dengan menggunakan indera penglihatan. Dengan kata lain, media visual hanya bisa dilihat dan tidak dapat didengar. Contoh media visual adalah poster, majalah, gambar, diagram, dan lain sebagaiannya.

2) Media Audio

Media Audio merupakan media yang tidak memuat gambar dan semata-mata dapat dinikmati dengan menggunakan indera pendengaran saja. Dengan kata lain, media audio tidak dapat dilihat dan hanya bisa didengarkan. Contoh media audio adalah musik, radio ataupun rekaman suara.

3) Media Audio Visual

Media audio visual merupakan harmonisasi media aiudio dan media visual. Sehingga, ketika menggunakan media audio visual, siswa dapat menggunakan indera pendengaran dan indera penglihatannya. Contohnya adalah tayangan slide suara, video, televise, film, dan lain sebagaiannya.

2. Membaca Permulaan

a. Pengertian Membaca Permulaan

Membaca ialah tahap permulaan atau awal seseorang ketika hendak belajar, membaca merupakan aspek paling penting untuk mengetahui segala sesuatu yang akan dipelajari, membaca bukan hanya sekedar kegiatan mengucapkan tulisan saja namun, membaca juga dapat membantu seseorang untuk memahami dan memaknai setiap arti dari kalimat yang dibacanya. Membaca melibatkan aktivitas berpikir, membutuhkan kosentrasi serta kemampuan yang baik dalam membaca, tentunya sebelum seseorang dapat membaca dengan lancar, mereka harus memahami dan mengenal abjad atau huruf sederhana terlebih dahulu, tahap awal dari membaca inilah sering disebut dengan membaca permulaan (Murtafiah, 2021). Membaca permulaan merupakan awal dari seorang siswa untuk mengenal huruf – huruf, abjad, kata, dan kalimat. Pada tahap ini siswa masih belum bisa membaca dengan lancar sehingga mereka masih menggunakan metode mengeja untuk memudahkannya dalam membaca kata atau kalimat. (Umar, 2021). Oleh sebab itu, pada tahap membaca permulaan siswa harus benar-benar bisa membedakan antara huruf satu dengan yang lainnya, supaya tidak kesulitan dalam membaca untuk tingkat yang lebih lanjut lagi.

Menurut (Pratiwi, 2020) membaca permulaan harus diawali dengan memperkenalkan bentuk huruf dari A sampai Z, kemudian harus dijelaskan bagaimana pelafalan yang benar saat mengucapkan huruf-huruf tersebut, setelah siswa siap dan sudah bisa untuk membedakan maka, latih siswa untuk mengeja suku kata terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan membaca kata, lalu membaca kalimat pendek. Tahap ini dilakukan secara perlahan saja tidak usah terburu – buru karena kemampuan siswa untuk menangkap serta memahami pelajaran itu berbeda-beda. Membaca permulaan merupakan tahapan seorang siswa dalam memahami huruf-huruf, kata dan kalimat dengan baik, mampu menerjemahkan semua bentuk kata dan kalimat yang dibaca dengan baik. Kegiatan membaca berkenaan dengan suatu proses keterampilan dan kognitif, proses keterampilan yang dimaksud merujuk pada bentuk pemahaman siswa dan pengenalan siswa terhadap bentuk lambang-lambang kata aau fonem. Sedangkan proses kognitif lebih mengarah dan merujuk kepada penggunaan lambang kata yang sudah dikenal dan diketahui oleh siswa guna untuk memahami dan mengetahui makna dari setiap kalimat yang dibaca oleh siswa (Fauziah, 2021).

Bedasarkan beberapa pendapat yang dijelaskan di atas maka, bisa ditarik kesimpulan yaitu pengertian membaca permulaan ialahtahapan awal membaca bagi anak-anak pra sekolah seperti kelas 1 SD. Membaca permulaan merupakan tahapan penting untuk memperkenalkan bentuk huruf abjad dari A-Z kepada siswa, menjelaskan pelafalan bunyinya dengan jelas, pelafalan bunyi yang jelas membantu siswa untuk memahami dan membedakan huruf satu dengan yang lainnya, dalam tahap ini siswa harus dibimbing dan dilatih dengan serius supaya mereka dapat benar-benar menguasai huruf-huruf sederhana dengan baik, dan mampu untuk mengeja kata atau kalimat yang dibaca. Sehingga mereka dapat mengerti dan memahami makna dari setiap kalimat yang dibaca.

b. Tujuan Membaca Permulaan

Menurut Iskandar Wasid dan Dadang Sunendar (dalam Hapsari, 2019) tujuan membaca permulaan yaitu:

1. Mengenal simbol maupun lambang bahasa dengan baik dan benar, siswa dapat mengenal dan memahami dengan baik apa itu lambang serta simbol bahasa, dapat membedakan huruf.

2. Mengenali kata dan kalimat, setelah siswa mengenal lambang atau simbol bahasa dengan benar, maka selanjutnya siswa dapat mengenali kata dan kalimat dengan mudah apabila siswa sudah mampu untuk mengeja dan mengenali huruf dengan baik.

3. Menemukan ide pokok serta kata kunci dalam setiap kalimat yang dibacanya, tentunya dalam membaca siswa harus mampu mengerti inti dan pokok bahasan dari bacaan yang ia baca supaya siswa mengerti dan paham makna dari setiap bacaan yang ia baca.

4. Menceritakan kembali cerita-cerita pendek, dalam proses pembelajaran pastinya guru akan meminta siswa untuk mengulas cerita dari apa yang sudah dibaca olehnya, maka dari itu siswa harus menguasai kemampuan membaca permulaan sedari dini sehingga siswa dapat dengan mudah menceritakan serta merangkum apa yang sudah ia baca.

Selain itu, terdapat tujuan membaca permulaan yang lain yaitu menurut (Santosa, Dantes, Rasna, Antara, & Lama, 2021) menurutnya tujuan membaca permulaan ialah peserta didik mampu mengenali dan memahami kata atau kalimat sederhana dapat memahami serta memaknai apa yang dibacanya. Menurut Soejono (dalam Suleman, Hanafi, & Rahmat, 2921) tujuan membaca permulaan adalah mengenalkan huruf–huruf sejak dini kepada anak, anak mampu membedakan pelafalan dari setiap kata yang dipelajarinya, mempunyai bekal untuk lanjut ke tahap membaca yang lebih lanjut lagi. 

Bedasarkan pendapat ahli-ahli yang sudah diutarakan, dapat ditarik kesimpulan yakni membaca permulaan ialah kemampuan mengenal dan membedakan huruf dengan baik, serta siswa bisa melafalkan huruf-huruf secara tepat, mampu mengenali kata dan kalimat sederhana, mampu menemukan ide pokok atau gagasan dalam cerita yang dibaca, mengasah kemampuannya dalam  menceritakan kembali cerita yang sudah dibacanya.

3. Pengertian Media Flashcard

a. Pengertian Media Flashcard Alphabet

Menurut pendapat (Ruslan, Samad, & Samad, 2022) media pembelajaran Flashcard Alphabet  ialah media yang berbentuk seperti kartu berupa gambar dan disertai kata atau tulisan. Dapat dikatakan dalam uraian  pendapat tersebut bahwa media tersebut adalah media yang menampilkan gambar, kata atau kalimat yang disajikan dalam bentuk kartu. Tetapi, (Kusumawati & Mariono, 2016) juga menyampaikan pendapatnya bahwa flashcard dapat dikatakan sebagai kartu permainan (Education Flashcards) yang implementasinya menunjuk gambar dengan tepat merangsang otak supaya memiliki kemampuan menerima informasi yang ada di hadapan mereka, sehingga dapat berjalan dengan efektif. Flashcard alphabet adalah salah satu media dalam pembelajaran dalam kartu berisi gambar dengan ukuran 25 x 30 cm. Gambar yang diterapkan dengan memanfaatkan gambar atau foto atau berupa huruf alphabet, disiapkan lalu  disatukan dengan lembar flashcard (Hotimah, 2010).

Dapat disimpulkan bahwa media flashcard alphabet berukuran 25 x 30 cm dan dibuat se edukatif mungkin, dengan menampilkan gambar atau foto berupa huruf alphabet dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Apabila terdapat banyak murid di kelas, ukuran flashcard yang dibuat dapat lebih besar agar visualisasi yang ditampilkan dapat mudah dimengerti dan untuk menjadikannya menjadi media belajar yang menyenangkan dapat dibuat individu atau memakai bahan yang tersedia. Penerapan tersebut dapat diterapkan dengan cara; beberapa kartu yang ditata digenggam dan di letakkan di depan dada dengan mengarah ke arah siswa, cabut kartu dengan bergilir satu persatu jika sudah menerangkan, berinteraksi dengan siswa terdekat dengan memberikan beberapa kartu yang telah ditampilkan, siswa ditugaskan untuk mengamati kartu yang diberikan dan dilakukan secara bergiliran agar seluruh siswa mengamati dengan rata. Dalam menerapkan pembelajaran ini dapat juga diterapkan menjadi sebuah permainan; taruh kartu huruf atau flashcard alphabet yang diacak di dalam kotak jauh dari posisi siswa, menyiapkan siswa yang akan berkompetisi, guru ditugaskan untuk memberi arahan kepada siswa dalam mencari kartu bergambar, atau huruf lambing yang sesuai dengan arahan guru  (Salsabila & Saputra, 2021).

b. Manfaat Media Flashcard Alphabet

Dengan diciptakannya media pembelajaran ini dapat memudahkan langkah pemahaman pengetahuan melalui panca indera. Ahli sensorik pun berpendapat bahwa organ manusia seperti hal nya kedua buah mata dinyatakan lebih banyak mengirimkan pengetahuan ke otak. Sekitar 75% hingga 87% pemahaman manusia yang diterima malewati kedua mata. Kemudian 13% sampai 25% yang lainnya melalui indera lainnya. Depdidknas menjelaskan bahwa alat visual memdudahkan langkah dalam menyampaikan dan menerima informasi khususnya dalam upaya pembelajaran (Husni, 2018). Kemudian, dengan diciptakannya media pembelajaran ini juga dapat meningkatkan hasil dalam menerima informasi pembelajaran. Dalam berpersepsi seseorang terhadap sesuatu memerlukan perhatian. Maka dari itu, apa yang diterima dan dilihat melalui pandangan yang baru, akan dijadikan pendorong dalam sudut pandang yang akan dating (Sumiharsono & Hasanah, 2017). 

Penggunaan media pembelajaran dalam bentuk flashcard alphabet ini adalah media pembelajaran yang memiliki manfaat berguna dalam dunia pendidikan, terutama dalam mengembangkan minat belajar siswa di Sekolah Dasar, lebih tepatnya di tingkat kelas rendah. Pada kelas rendah, anak belum mampu untuk berpikir abstrak. Sehingga pembelajaran yang disampaikan oleh guru perlu disampaikan dalam bentuk nyata atau bentuk konkrit. Media yang divisualisasikan pun dirancang semenarik mungkin dan menyenangkan. Media pembelajaran dalam bentuk flashcard ini memakai kartu yang berisikan huruf-huruf abjad atau alphabet yang menjadi alat bantu dalam kegiatan pembelajaran.dan dapat membuat siswa memahami materi yang guru sampaikan dengan mudah. Dapat disimpulkan media ini adalah kartu berisikan gambar atau tulisan yang bersangkutan dengan huruf. Media flashcard alphabet juga dikatakan sebagai kartu yang berfungsi untuk menguji daya ingat dan mengevaluasi proses membaca.

Kelas yang diamati adalah kelas 1 Sekolah Dasar. Dengan manfaat pada awal mula pembelajaran mampu menarik perhatian siswa, meningkatkan percaya diri dalam membaca, dan menguji daya ingat siswa dalam kegiatan membaca. Kemudian kekurangan dalam penerapan flashcards adalah membutuhkan waktu yang tidak cepat. Kewajiban dalam penggunaan media ini sesuai dengan teori psikologis Bruner yang menurutnya langkah penerapan media ini bermula dari enactive, iconic, dan symbolic. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru harus ditugaskan untuk mampu menempatkan diri dengan proses kembangan anak, melalui beberapa bbenda konkrit untukmenghasilkan pengalaman, kemudian melalui media bergambar, lalu dengan menerapkan pengalaman yang bersifat maya (simbolis) melalui buku. 

Jadi dapat dipahami bahwa media flashcard Alphabet ialah kartu yang  berkaitan dengan rancangan yang berisi gambar atau tulisan guna memudahkan siswa dalam belajar. Sementara, penerapan media flashcard dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk keterampilan membaca permulaan adalah penggunaan kartu yang berhubungan dengan konsep yang berisi gambar atau tulisan untuk memudahkan siswa dalam belajar membaca permulaan, dengan indikator-indikator (1) mengkondisikan siswa duduk membentuk lingkaran (2) menyusun media flashcard alphabet (3) siswa mengambil media flashcard alphabet kemudian mengamati huruf atau tulisan dan gambar yang ada di flashcard (5) siswa menyebutkan huruf atau tulisan yang ada pada flashcard.

4. Karakteristik Siswa Kelas 1 

Pada usia SD ialah masa dimana tahap tumbuh kembang seorang anak yang berlangsung dari usia 6 – 12 tahun. Dalam usia SD ini, siswa memiliki karakteristik yang beragam, baik dalam individu maupun kelompok, baik dari bidang kognitif, afektif, dan psikomotor. Siswa sekolah dasar terutama kelas rendah masih membutuhkan perhatian melalui media pembelajaran. Pada usia seperti ini masih terbilang sulit dalam menangkap suatu hal jika tanpa media pembelajaran yang dapat mencontohkan hal tersebut (Syofyan & Susanto, 2020). Pada usia ini lebih dikenal dengan usia sekolah atau usia SD, yang dimana ada 2 fase yang menjadi bagian (Fauzi, 2018) yaitu :

a. Fase kelas rendah, terjadi pada siswa usia 6/7 tahun sampai 9/10 tahun. Yang menjadi golongan kelas rendah yaitu kelas 1,2, sampai 3 SD. 

b. Fase kelas tinggi, terjadi pada siswa usia 9/10 tahun sampai 12/13 tahun. Yang menjadi golongan kelas tinggi yaitu 4,5, sampai SD.

Karakteristik siswa terdiri dari beberapa bagian seperti yang dikemukakan oleh (Sakti, 2019) yaitu:

a. Rasa ingin tahu yang dimiliki sangat tinggi 

b. Jiwa bermain masih melekat dalam diri 

c. Ingin terlihat sempurna dihadapan orang lain 

d. Bertingkah semaunya dan mengatur 

e. Masih menghubungankan suatu teori dengan kejadian nyata. 

f. Apabila sudah merasa puas, maka dapat belajar dengan baik 

g. Kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama sama dengan teman sebaya dapat meningkatkan semangat belajarnya. 

Pada anak usia kelas rendah ini terutama kelas 1, akan mengalami perkembangan keterampilan. Perkembangan keterampilan tersebut mencakup keterampilan social help skills, dan play skill. Perkembangan keterampilan social ini berfungsi untuk membantu siswa dalam mengembangkan nilai sosial seperti membantu orang lain (Riri Zulvira, 2021), dan play skill yang mempunyai keterkaitan dengan motoric siswa seperti berlari, menangkap, melempar dan menjaga keseimbangan (Sekar & Kawuryan, 2021). Guru dapat membuat komunikasi yang baik dan interaktif  untuk para siswa guna mengetahui perkembangan daya pikir, emosional, serta meningkatkan minat belajarnya melalui komunikasi tersebut (Susanto, Agustina, Rozali, & Rachbini, 2021). Dengan demikian bahwa siswa kelas 1 berada pada tahap operasional konkret, yang dimana siswa sudah dapat menentukan sikap, perkataan dan suatu kegiatan yang dapat membuat mereka nyaman dan senang. Selain itu, mereka tetap akan memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi terkait beberapa hal yang akan mereka temui di lingkungan mereka berada dan dapat dengan mudah terpengaruh oleh apapun yang ada dilingkungan sekitar mereka (Suryaman & Karyono, 2018)

B. Penelitian Relevan

1. (Kumullah Rahmah, 2019) melakukan penelitian tentang peningkatan pembebelajaran membaca permulaan dengan tujuan dalam memperbaiki hasil kemampuan baca pada siswa di kelas I SD Inpres Paccerakkang Kota Makassar. Dalam jenis penelitian (PTK). Subjek penelitian ini adalah 29 siswa kelas I SD Inpres Paccerakg. Dengan fokus tujuan peningkatan kemampuan membaca awal. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan observasi dan tes keterampilan membaca awal. Memakai Instrumen lembar observasi skala penilaian dan soal tes kerja. Memakai teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Dengan hasil penelitian kemampuan awal dalam membaca siswa melalui membuahkan hasil tinggi. Yang dapat dilihat melalui perbaikan lafal, intonasi, lancar dan jelasnya suara. 

2. Penelitian yang langsungkan (Wahyuni, 2020) dengan judul penelitian Penerapan Media Flashcard untuk meningkatkan hasil belajar tema “Kegiatanku” di SD Negeri Candiwatu, dengan subjeknya yaitu siswa kelas 1 SD Negeri Candiwatu dengan jumlah siswa yaitu 24. Dalam penelitian ini penulis membuktikan adanya peningkatan keterampilan membaca permulaan siswa yang cukup baik, bersamaan dengan penggunaan media flashcard yang terlihat dari hasil tes siswa siklus 1 didapatkan nilai rata-rata 68,33, yang dimana hanya 19 siswa saja yang mendapatkan nilai diatas rata -rata dan terjadi kenaikan pada siklus 2 yaitu 81,67, dengan jumlah kenaikan siswa menjadi 24. Yang sebelumnya siswa mengalami penurunan dikarenakan penyampaian materi yang diberikan oleh guru menggunakan metode konvensional atau ceramah yang cenderung monoton sehingga membuat rasa jenuh dan bosan, maka dari itu peneliti menggunakan metode lain yang dapat meningkatkan  kemampuan membaca siswa. 

3. Penelitian yang dilangsungkan  (Partikasari et al., 2019)   adapun judul penelitiannya adalah “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Metode Bermain Flash Card” didalam penelitiannya ini partikasari membahas mengenai pentingnya menggunakan sebuah media terutama media seperti flashcard alphabet untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa khususnya pada kelas rendah seperti kelas 1 SD. Dalam penelitiannya ini terdapat tiga siklus dalam penerapan penggunaan media flashcard. Siklus 1 menunjukkan bahwa siswa masih belum mampu untuk membaca dengan lancar menggunakan media flashcard siswa masih belum terbiasa membaca menggunakan media ini terbukti dengan siswa yang masih meraba - raba ketika membaca menggunakan media flashcard ini. Dalam percobaan pertama yang dilakukan disiklus 1, mendapatkan persentase sebesar 40,5 %. Lalu pada siklus 2 mendapatkan persentase sebesar 82,8 % dalam siklus 2 ini siswa sudah lebih terbiasa membaca menggunakan  media flashcard maka dari itu, persentase yang didapatkan juag lebih meningkat dibandingkan pada siklus 1. Sementara itu, pada siklus 3 siswa menjadi sudah sangat terbiasa membaca menggunakan media flashcard ini siswa merasa terbantu dan lebih mengerti jika membaca menggunakan media flashcard, etrbukti dengan persentase yang diperoleh sebesar 97, 25 %. Adanya penelitian yang berlangsung secara 3 siklus dengan masing9masing persentasenya itu meningkat sudah membuktikkan bahwa jika penggunaan media flashcard sangat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan membaca khususnya untuk siswa kelas kecil atau rendah.

4. Penelitian yang dilakukan oleh (Indrayani, 2016) “Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Penggunaan Media Flash Card Siswa Kelas I SDN Surokarsan 2 Yogyakarta”. Jenis penelitian  ini yaitu penelitian Tindakan kelas, dengan menggunakan siswa sd sukosari 2 sejumlah 29 siswa sebagai subjeknya. Dengan tujuan meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa dengan memanfaatkan media belajar yaitu flashcard. Serta terdapat 2 siklus untuk mengetahui perubahan keterampilan membaca pada siswa, dalam siklus 1 mendapatkan rata – rata 58,62%, mengalami kenaikan pada siklus ke 2  menjadi 84,76%. Hal tersebut juga dapat dilihat dari aspek pelafalan, intonasi, kelancara, serta kejelasan.






C. Kerangka Berpikir


 







D. Hipotesis Tindakan 

Hipotesis tindakan yang bisa diberikan ialah media flashcard alphabet bisa meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa kelas 1.

 

BAB III

METODE PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian akan dimulai pada bulan Juni hingga Juli 2022 dan akan dilangsungkan di SDIT Utama Insani, Kec. Panongan, Kab. Tangerang, Provinsi Banten. Penelitian dilangsungkan di kelas I dengan jumlah siswa berjumlah 23 siswa. Peneliti memilih SDIT Utama Isnani sebagai tempat penelitian karena terdapat siswa kelas I yang membaca permulaannya baik dan terdapat pula siswa yang membaca permulaannya kurang dan guru belum menerapkan media flashcard alphabet dalam pembelajarannya. 

B. Jenis Penelitian

 Pada penelitian yang dilakukan peneliti, akan digunakan penelitian kualitatif dengan menerapkan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Penelitian tindakan kelas ialah penelitian yang dilangsungkan oleh seorang guru yang tujuannya untuk meningkatkan situasi pembelajaran (Prof. Drs. Manihar Situmorang, M.Sc., 2019). Pada penelitian ini, akan digunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan McTaggart. 

C. Kehadiran dan Peran Peneliti

Peneliti berperan sebagai pengamat sekaligus peneliti yang merancang semua tahapan dari penelitian ini dan berkolaborasi dengan guru dalam melaksanakan penelitian ini. Pengamatan akan dibantu oleh guru kelas I selaku wali kelas.

D. Subjek Penelitian 

Subjek yang akan diamati pada penelitian ini ialah siswa kelas 1 SDIT Utama Isnani yang terdiri dari 23 siswa. Peneliti memilih subjek karena memenuhi standar atau kriteria siswa yang sedang menghadapi proses belajar membaca pemahaman awal.


E. Rancangan Penelitian

       Penelitian  ini memfokuskan tindakan kelas dengan model Kemmis dan McTaggart yang dapat dipahami menjadi pengamatan dengan tujuan mencaritahu suatu kendala yang sering dihadapi oleh pengajar dalam profesionalitas pengembangannya (Hartati & Hidayati, 2022). Tujuan dijalankannya kegiatan penelitian ini sebagai wujud pelatihan mengenai penelitian tindakan kelas. Terpilihnya jenis penelitian ini guna memecahkan kendala proses pembelajaran, serta membenahi kendala yang ada dalam proses pembelajaran guna meningkatkan keterampilan siswa dalam memotivasi pembelajarannya. 

Proses penelitian tindakan kelas ini diterapkan sebagai rancangan dalam memecahkan masalah dengan aksi nyata yang kemudian melakukan refleksi mengenai hasil dari tindakan di dalam kelas guna meningkatkan kegiatan belajar siswa dalam keterampilan membaca permulaan melalui media flashcard alphabet. Beberapa ahli menyampaikan pendapatnya mengenai model penelitian tindakan melalui bagan yang berbeda-beda, namun terdapat empat tahap menurut (Depdikbud, 2018). Menurut penelitian tindakan kelas model Kemmis dan McTaggart berpendapat bahwa penelitian ini memiliki empat tahapan yaitu, rencana, pengamat, dan refleksi yang tercantum di dalam satu siklus, berikut ini penjelasaannya :


 

Gambar 3. 1 Rancangan Penelitian


Tahap 1 : Perencanaan 

Maksud dari tahap 1 perencanaan ini adalah merancang serta menyusun hal-hal yang akan diterapkan dalam kegiatan ini.  Beberapa konsep akan diterapkan oleh peneliti diantaranya, menyusun rancangan dalam tindakan, bertanya mengenai apa, mengapa, kapan, di mana, siapa, bagaimana proses berjalannya suatu penlitian tindakan. Penelitian kolaborasi dapat dikatakan ideal dengan cara berpasangan antara pihak yang mengamati dan yang melakukan tindakan. Perencanaan dapat dikatakan sebagai mengembangkan konsep secara detail untuk meningkatkan apa yang telah terjadi dalam kegiatan penelitian. Perencanaan dapat dimulai dengan menyiapkan RPP, ruang kelas penlitian, serta menyiapkan media yang akan dipakai sebagai instrument penlitian. 

Tahapan penyusunan dapat dimulai dengan memilih KI dan KD, selanjutnya merancang indikator, menentukan materi, menyusun RPP untuk beberapa siklus, menyiapkan media flashcard alphabet untuk pembelajaran, menyiapkan LKPD serta menyusun evaluasi. 

Tahap 2 : Pelaksanaan

Tahapan kedua pada pelaksaan ini adalah penerapan isi rancangan dengan menggunakan tindakan di kelas, dengan melakukan proses proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti yang akan merangsang pola pikir siswa, menerapkan apersepsi menyampaikan tujuan pembelajaran. Kemudian peneliti melanjutkan kegiatan pembelajaran dengan mengajarkan  siswa membaca huruf dengan menggunakan media flashcard alphabet , menyusun rangkaian huruf menjadi kata, kemudian tahap akhir peneliti melakukan evaluasi dan melakukan tes akhir. 

Tahap 3 : Pengamatan 

Dilakukannya pengamatan yang dilakukan oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan kegiatan guru dan siswa selama berjalannya kegiatan pembelajaran. Lembar pengamatan diamati dan diisi oleh teman sejawat siswa. Lembar aktivitas guru diamati kemudian diisi oleh guru, kemudian mendokumentasikan kegiatan yang berjalan selama proses tindakan berlangsung dengan menggunakan media flashcard alphabet.

Tahap 4 : Refleksi

Pada tahap 4 refleksi ini dilakukan pengamatan kembali mengenai apa yang telah dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan pada tahapan akhir, serta mengevaluasi apa yang dianggap masih menjadi kendala dalam proses penelitian yang kemudian dapat diperbaiki pada saat kegiatan pelaksanaan berikutnya. 

F. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (Sugiyono, 2019), teknik pengumpulan data ialah teknik yang diterapkan peneliti, yang berguna untuk menyatukan data yang berkaitan terhadap penelitian yang dilakukan. Teknik pengumpulan data merupakan langkah awal untuk memulai penelitian. Data yang akurat diperlukan untuk menganalisis permasalahan yang muncul. Untuk mendapatkan data yang akan diteliti, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: 

1. Observasi 

Observasi ialah suatu metode pengumpulan data, melalui cara mengamati sasaran penelitian yang akan diteliti, dan peneliti mengamati secara langsung. Peneliti mengamati subjek penelitian bedasarkan apa yang dilihatnya pada saat terjun di lapangan,  (Rijali, 2019). Pada pelaksanaan penelitian, peneliti mengamati pemahaman bacaan awal setiap siswa yang sebelumnya telah ditindaklanjuti dan sudah ditindaklanjuti menggunakan flaschcard alphabet.

2. Wawancara 

Wawancara ialah teknik pengumpulan data dengan mengutarakan beberapa pertanyaan kepada subjek penelitian. Teknik penguumpulan data digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih komprehensif yang up-to-date dan konsisten dengan apa yang terjadi di lapangan. Dalam penelitian ini peneliti mewawancarai guru terkait kegiatan pembelajaran siswa, (Rijali, 2019) menentukan pemahaman bacaan awal setiap siswa yang sebelumnya telah ditindaklanjuti dan ditindaklanjuti menggunakan media flashcard alphabet.

3. Skala Nilai atau Rating Scale

Skala nilai atau rating scale merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengkategorikan gejala-gejala yang ditemukan dalam penelitian, dalam daftar rating scale juga menunjukkan tingkatan atau jenjang setiap gejala yang ditemukan. Teknik pengumpulan data dipakai untuk menangkap kemajuan siswa dalam pemahaman membaca awal dengan menggunakan media flashcard alphabet (Harpiani, 2021).

4. Dokumentasi 

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang akan membantu untuk mendapatkan data-data penting dari sekolah yang diteliti. Data-data tersebut termasuk data yang penting dan resmi, dan adapula data yang berupa catatan pribadi. Data penting dan resmi meliputi profil sekolah, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sedangkan dokumen tidak resmi ialah meliputi foto-foto hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti kepada guru maupun siswa (Harpiani, 2021). Foto-foto yang dilampirkan dalam penelitian berguna untuk dijadikan sebagai bukti bahwa peneliti sudah melangsungkan kegiatan wawancara dan observasi kepada guru maupun siswa.

G. Teknik Analisis  Data

Menurut (Sugiyono, 2019), teknik analisis data ialah kegiatan mencari data dan mengorganisasikan data yang didapat secara sistematis merupakan data yang sudah terkumpul pada saat melakukan observasi, wawancara, atau dokumentasi. Setelah data-data penelitian didapatkan maka harus dijabarkan ke dalam beberapa golongan unit tertentu. Kemudian baru dilakukan sintesa dari hasil data yang diperoleh setelah itu peneliti akan membuat sebuah simpulan berdasarkan data-data yang sudah diperoleh. Peneliti akan menggunakan analisis data menurut Miles and Huberman. Menurut Miles dan Huberman, analisis data untuk penelitian kualitatif perlu dilakukan secara menyeluruh. Dengan kata lain, peneliti perlu melakukan pencarian sampai data penelitian selesai atau jenuh. Kegiatan analisis data adalah reduksi data, display data, dan validasi/kesimpulan data.

1. Reduksi Data 

Menurut (Sugiyono, 2019) reduksi data ialah proses untuk merangkum data-datayang telah didapat dari penelitian. Jika data dalam suatu penelitian itu banyak, maka datanya memanglah harus dirangkum agar jelas dan rinci. Mereduksi data juga merupakan cara untuk memilih dan memilah data penelitian yang memang sekiranya itu perlu dan penting dimasukkan ke dalam fokus penelitian. Karena tidak semua data penelitian itu dapat dijadikan sebagai fokus penelitian pasti akan banyak dan rumit. Mereduksi data berarti mencari data serta memilah data yang sekiranya data tersebut benar-benar data yang pokok dan penting dalam penelitian.

2. Penyajian Data 

Menurut (Sugiyono, 2019), setelah data penelitian telah direduksi maka data tersebut harus disajikan atau didisplay dalam bentuk grafik, tabel, pie chard, pictogram dll. Setelah penyajian data dilakukan maka data penelitian akan tergambar dengan baik, hal itu diatur dengan jelas untuk memudahkan. Untuk penelitian kualitatif, tampilan data dapat berupa deskripsi singkat, grafik, atau hubungan antar kategori. Jika peneliti sudah menyajikan data penelitian maka akan memudahkannya untuk memahami segala sesuatu aspek yang ada dalam penelitiannya.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Menurut (Sugiyono, 2019), prosedur terakhir pada penelitian kualitatif yaitu dengan melakukan verifikasi data, kemudian harus membuat kesimpulan dari data-data yang sudah direduksi serta disajikan. Peneliti harus membuat kesimpulan yang benar-benar kredibel maksudnya adalah sesuai dengan data-data penelitian yang telah diperoleh. 

4. Indikator Keberhasilan Penelitian 

Keberhasilan suatu penelitian dapat dinilai oleh peneliti, dengan mencermati situasi dan kemampuan dari subjek penelitian. Dari target yang ingin dicapai adalah ≥75% mencapai ketuntasan belajar ≥75, hasil itu dapat diketahui dari instrument pengamatan siswa di siklus I. Jika siklus I tidak dapat mencapai indikator keberhasilan maka dilanjutkan dengan siklus ke II sampai kemampuan keterampilan membaca permulaan dapat sesuai dengan hasil yang diinginkan (Juliani, 2019).

Menurut Ngalim Purwanto dalam Utami, ada beberapa kriteria presentase dalam mencapai indikator keberhasilan, yaitu: 

Tabel 3. 1 Kriteria Presentase

Presentase % Keterangan 

81%-100% Sangat Baik

61%-80% Baik

41%-60% Cukup

21%-40%  Kurang

0%-20% Sangat Kurang

5. Jadwal Penelitian

Tabel 3. 2 Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Maret April Juni Juli

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Penyusunan proposa PTK dan perencanaan siklus I

2. Pelaksanaaan siklus I

3. Pengamatan siklus I

4. Refleksi I

5. Perencanaaan siklus II

6. Pelaksanaann siklus II

7. Pengamatan siklus II

8. Refleksi II

9. Penulisan laporan PTK

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. (2018). Pendidikan Profesi Guru JPTM FPTK UPI PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH).

Dewi, A., & Susanto, R. (2018). Analisis Pengaruh Pembelajaran Quantum Terhadap Proses Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas VA di SDN Joglo 04 Petang. Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa, 4.

Fauzi. (2018). Karakteristik Kesulitan Belajar Membaca Pada Siswa Kelas Rendah Sekolah Dasar.

Fauziah. (2021). Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN Patrang 01 Jember pada Masa Pembelajaran Daring. Jurnal Ilmu Pendidikan Sekolah Dasar.

Hapsari, E. D. (2019). Penerapan Membaca Permulaan untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa. AKSARA Jurnal Bahasa Dan Sastra, 20, 10–24.

Harpiani, H. (2021). Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 Melalui Media Kartu Huruf. https://doi.org/10.31332/str.v27i2.3209

Hartati, Z., & Hidayati, N. (2022). Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru MTs. Islamiyah Kota Kota Palangka Raya. Al-Khidma Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1.

Hotimah, E. (2010). Penggunaan Media Flashcard dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa Pada Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris Kelas II MI Ar-Rochman Samarang Garut. Jurnal Pendidikan UNIGA, 04.

Husni, A. S. (2018). Pengaruh Metode Penyuluhan Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Persatuan Orang Tua Murid Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut di SD Negeri I Rantau Aceh Tamiang Tahun 2018.

Indrayani, A. O. (2016). Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Penggunaan Media Flash Card Siswa Kelas I SDN Surokarsan 2 Yogyakarta. 274–282.

Indriyani, L. (2019). Pemanfaatan Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kognitif Siswa. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2 No. 1, 10.

Juliani, Si. (2019). Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Kartu Huruf Pada Kelompok B di TK Islam An-Nahl Tangerang. UIN Syarif Hidayatullah.

Jurnal, L., & Wahyuni, S. (2020). Penerapan Media Flash Card untuk Meningkatkan Hasil Belajar Tema “Kegiatanku.” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 4(1), 9–16. https://doi.org/10.23887/JISD.V4I1.23734

Kumullah Rahmah, Y. (2019). Peningkatan Membaca Permulaan Melalui Media Flash Card pada Siswa Kelas Rendah Sekolah Dasar.

Kurniawan, B. (2021). Sumber dan Media Pembelajaran SD. Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung.

Kusumawati, R., & Mariono, A. (2016). Pengembangan Media Flashcard Tema Binatang Untuk Anak Kelompok B di Taman Kanak-Kanak Asemjajar-Surabaya. Jurnal Teknologi Pendidikan, 4.

Macmillan. (2018). Media. Retrieved from The word media is a plural form of the Latin word ‘medium’ meaning ‘middle ground or intermediate’. Its usage as a word to describe newspapers, radio and other sources of information likely derives from the term ‘mass media‘ which was a technical term use

Murtafiah. (2021). Analisis Keterampilan Membaca Permulaan dan Berhitung pada Siswa Sekolah Dasar.

Ningsih, I. H., Winarni, R., & Roemintoyo, R. (2019). The Importance of Early Reading Learning in The Face of 21st Centurty Education. AL-ASASIYYA: Journal Of Basic Education, 3(2), 196. https://doi.org/10.24269/ajbe.v3i2.1879

Partikasari, R., Suryani, N. A., & Imran, R. F. (2014). Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Metode Bermainflash Card Subaca Di Paud Al- Anisa Bentiring Kota Bengkulu. Jurnal Ilmiah Potensia, 3(4), 1–19.

Pratiwi, C. P. (2020). Analisis Keterampilan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar: Studi Kasus pada Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Edutama, 7(1), 1. https://doi.org/10.30734/jpe.v7i1.558

Prof. Drs. Manihar Situmorang, M.Sc., P. D. (2019). Penelitian Tindakan Kelas (1st ed.). Depok: Rajawali Pers.

Puspitarini, Y. D., & Hanif, M. (2019). Using Learning Media to Increase Learning Motivation in Elementary School. Anatolian Journal of Education, 4(2), 53–60. https://doi.org/10.29333/aje.2019.426a

Rijali, A. (2019). Analisis Data Kualitatif. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 17(33), 81. https://doi.org/10.18592/alhadharah.v17i33.2374

Riri Zulvira, N. (2021). Karakteristik Siswa Kelas Rendah Sekolah Dasar.

Ruslan, A. P. D., Samad, F., & Samad, R. (2022). Penguasaan Kosa Kata Bahasa Inggris Anak Melalui Media Flash Card Pada Kelompok B Di PAUD Terpadu Alkhairaat Skeep Kota Ternate. JURNAL ILMIAH CAHAYA PAUD.

Sadiman, A. S., Rahardjo, R., Haryono, A., & Harjito. (2009). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta.

Sakti, B. P. (2017). Indikator Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar. Magistra Unwidha Klaten, 30, 1. https://doi.org/10.31227/OSF.IO/PUCW9

Salawati, J. B., & Suoth, L. (2020). Pengaruh Media Kartu Huruf Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan. International Journal of Elementary Education, 4(1), 100. https://doi.org/10.23887/ijee.v4i1.24383

Salsabila, R., & Saputra, E. R. (2021). Flashcard Aksara Sunda: Sebuah Inovasi Media Pembelajaran Untuk Sekolah Dasar. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, Dan Budaya Daerah Serta Pengajarannya, 12, 181–190.

Santosa, S. H., Dantes, N., Rasna, W., Antara, I. G. P., & Lama, K. (2021). Studi Eksperimentasi Dan Penelusuran Keefektifan Dan Efisiensi Metoda Dalam Proses Belajar Membaca Permulaan Di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan, 301–316.

Sekar, O. :, & Kawuryan, P. (2021). Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Pembelajarannya.

Sofyani, N., & Susanto, R. (2021). Analisis Keterkaitan Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient) dan Ketahanmalangan (Adversity Quotient) dalam Pembentukan Motivasi Belajar Siswa Kelas V A di Sekolah Dasar Negeri Jelambar Baru 01. Dinamika Sekolah Dasar.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan (3rd ed.; Dr. Apri Nuryanto, Ed.). Bandung: ALFABETA, cv.

Suleman, D., Hanafi, Y., & Rahmat, A. (2921). Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Permulaan Melalui Metode Scramble Di Kelas II SDN 3 Tibawa Kabupaten Gorontalo. AKSARA: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 97.

Sumiharsono, R., & Hasanah, H. (2017). Media Pembelajaran: Buku Bacaan Wajib Dosen, Guru dan Calon Pendidik (D. Ariyanto, Ed.). Jember: Pustaka Abadi.

Suryaman, & Karyono, H. (2018). Revitalisasi Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini di Kelas Rendah Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan, 10–18.

Susanto, R. (2018). Pengkondisian Kesiapan Belajar Untuk Pencapaian Hasil Belajar dengan Gerakan Senam Otak. Jurnal Eduscience, 3.

Susanto, R., Agustina, N., Rozali, Y. A., & Rachbini, W. (2021). Profil Kompetensi Pedagogik: Gender, Sebuah Peran Kunci. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 9, 189–200.

Susanto, R., & Rachmadtullah, R. (2019). Multimedia-Based Learning Application Development in Education Management Courses. International Journal of Civil Engineering and Technology (IJCIET), 10, 2988–2993.

Susanto, R., Syofyan, H., Rozali, Y. A., Nisa, M. A., Umri, C. A., Nurlinda, B. D., … Lestari, T. H. (2020). Pemberdayaan Kompetensi Pedagogik Berbasis Kemampuan Reflektif untuk Peningkatan Kualitas Interaksi Pembelajaran. International Journal of Community Service Learning, 4, 125–138.

Syofyan, H., & Susanto, R. (2020). Peningkatan Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Melalui Pemberdayaan Kompetensi Sosial dan Kepribadian Guru. International Journal of Community Service Learning2, 4, 338–346.

Umar. (2021). Strategi Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan melalui Media Kartu Bergambar bagi Anak Usia Dini dalam Bingkai Islam dan Perspektif Pakar Pendidikan.

WAHYUDIN. (2014). Keterampilan Membaca Siswa Kelas I Melalui Media Kartu Huruf.




Komentar